Atasi Kelangkaan Air dari Tahun 2001, Komisi III Panggil SPAM Batam


Atasi Kelangkaan Air dari Tahun 2001, Komisi III Panggil SPAM Batam

Atasi Kelangkaan Air dari Tahun 2001, Komisi III Panggil SPAM Batam
Pimpinan Rapat Komisi III DPRD Batam

BATAM I KEJORANEWS.COM : Pimpinan rapat, Arlon Veristo menyampaikan bahwa selaku operator SPAM BATAM, Moya dapat membagi pelayanan air bersih di waktu pagi hari, siang, atau sore hari, jangan lagi dari tengah malam sampai dini hari. Selain itu menyuplai gunakan mobil tanki  air yang pelayanan tidak terjangkau.

"Sama-sama penting industri penting kita juga penting, terdapatnya jaringan pipa yang besar karena kebutuhan mereka juga besar. karena disini ada efek dominonya," terangnya.

"Di jum'at barokah, semoga pertemuan ini membuahkan hasil. Karena ini kebutuhan pokok, kita ingin tidak ada perbedaan karena air. BP Batam dan Moya untuk dapat turun kelapangan mengatasi Krisis air. Dan dalam satu, dua hari, kalau air tidak hidup kita akan RDP kan lagi," tutupnya.

Hal tersbut disampaikannya pada Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan instansi-instansi dan masyarakat Tanjung Uncang terkait pelayanan air bersih di perumahan Putra Jaya Residence Cluster A RT 006 RW 002 Tanjung Uncang, di ruang rapat Komisi III DPRD Batam, Batam Centre - Batam, (01/10/21).

Sebelumnya dari Perwakilan Warga, Ediyanto menyampaikan bahwa tidak mau tau secara teknik, hanya ingin hak sebagai warga negara Indonesia.

"Saya mengalami sendiri, tengah malam keluarga harus menunggu air hidup, dan saya juga pernah ke kantor SPAM, dan langsung ditangani oleh petugasnya. Namun, kejadian serupa terulang kembali, dan tidak ada perubahan," terangnya yang tinggal di Sei Pelungut-sagulung, dan terdapat sekitar 1200 jiwa.

Hal senada di sampaikan, Perwakilan Warga RW 12/RW 22, Sri Ningsih mengatakan bahwa air hidupnya hanya pada malam hari saja, mulai dari jam 24.00 WIB hingga pukul 03.00 WIB. dan tidak pernah di pagi hari.

"Beda dengan tetangga, industri Shipyard, air hidup kencang dan tidak pernah mati. Sementara kita juga butuh air hidup di pagi hari untuk anak-anak mandi, suami bekerja, serta kebutuhan memasak dan lainnya. Kalau bisa di bagi sama rata pelayanan airnya, karena sama-sama membayar" terangnya.

BP Batam dan Moya (SPAM Batam)
Menanggapi hal itu, Direktur Moya, Sutedi Raharjo menyampaikan bahwa daerah warga merupakan ujung pelayanan dari pipa Waduk Duriangkang. Jadi, sebelum menuju sampai daerah Tanjung Uncang terlebih dahulu melayani beberapa wilayah di Batu Aji.

"Sehingga pelayanan air bersih, dapatnya pada malam hari, saat beberapa wilayah di Batu Aji tidak menggunakan air. Kondisinya saat ini," jelasnya.

"Secara teknis kita memang lagi kekurangan produksi, jadi kita hanya bisa mengoptimalkan jaringan yang ada. termasuk daerah warga ini," terangnya.

Berikutnya Manager operational SPAM BP Batam, misyar Y menyampaikan bahwa memang daerah tersebut tekanan air sama sekali tak ada, karena itu air mengalir dari jam 02.00 WIB sampai 05.00 WIB.

"Sebenarnya hari ini, kita bisa saja meningkatkan tekanan airnya, tapi daerah lain akan mengalami kejadian serupa. kita tutup disini, masalahnya jadi pindah. Seperti kawasan Shipyard, kalau kita tutup pasti akan demo dan sampai ke pusat, kita jadi dilema," terangnya.

Sambungnya, Produksi air saat ini belum dapat di tingkatkan, sementara penyambungan baru bertambah. Dalam waktu jangka pendek, akan membangun WTB di Muka Kuning dengan kapasitas ideal WTP 310 liter per detik, akan ditingkatkan sampai 550 liter per detik. Pengerjaannya sudah mulai dan akan terus berlanjut sampai tahun 2022.

Setelah dapat beroperasi, daerah Batu Aji dan Tanjung Uncang, bisa terlayani yang tadinya 1 sampai 2 jam sehari, minimal bisa terlayani 10 sampai 18 jam dan syukur - syukur 24 jam. Pelayanan air ini bukan hanya untuk warga di Tanjung Uncang saja, ke daerah lainnya juga. Tapi, sebagian besar di Batu Aji dan Tanjung Uncang.

"Sementara kita akan coba cari jalan keluar, untuk dapat melakukan pelayanan pada pagi, atau siang hari. Dan untuk yang tidak terjangakau dalam pelayanan, seperti di Rusun Tanjung Uncang, pelayanan menggunakan truk tangki," tutupnya.
Suasana RDPU
Selanjutnya, Anggota Komisi III, Dandis Rajagukguk menyampaikan bahwa permasalahan ini hanya sebagian kecil masyarakat kota Batam, yang mengadu.

Pertemuan ini sebenarnya, bagaimana BP Batam dan Moya bisa mengatasi kelangkaan air, menjadi lancar ke Tanjung Uncang. Jadi tidak perlu ini itu, kalau tekanannya cukup dan sampai.

"Langkah-langkah yang diambi kan bisa menyetel tekanan air. Karena masalah hidup hajad orang banyak, Kalau bisa dialihkan, saya pikir 2 sampai 3 Jam air hidup, cukup bagi warga, habis itu matikan lagi. Yang penting BP Batam dan Moya mau capek," terangnya.

"Setiap ada developer atau pengembang pemukiman baru, jaringan pipa air jangan disambung dulu. Ini kan tidak, ada pemabangunan masukan terus meteran air, sementara kapasitas air tidak mendukung. Artinya kapan bisa disambung ketika sampai waduk ini selesai, kan BP Batam bisa buat regulasi," pungkasnya.

Lanjut, Anggota Komisi III, Muhammad Rudi menyampaikan bahwa sejak tahun 2001 sampai sekarang masih permasalahan yang sama, sakit kalau tidak ada air.

"Sebelum jadi dewan, sekarang jadi dewan, sama kejadiannya. Di RW 12 dan RW 22, air hidup dari jam 02.00 WIB dan jam 03.00 mati, saya sampai kirim mobil tanki air ke rumah-rumah warga, tapi sampai kapan harus begitu. Saya harap BP dan Moya datang kelokasi lihat situasinya langsung," terangnya yang tinggal di daerah yang sama dengan warga.

"Pemukiman yang lain lancar, sementara kami harus membeli bak/tong plastik besar, dari rentang 2001 sampai 2021 apa yang kalian lakukan. Kami ingin besok lancar. Kenapa industri bisa kencang airnya. Dan stop dulu jika ada pembangunan perumahan yang baru, selesaikan dulu dan cari solusinya. Karena ini, jangan ada lagi warga mengalami kecelakaan kerja, karena mengantuk, akibat menunggu air," tutupnya yang mana di daerah tersebut terdapat sekitar 600 Kepala Keluarga.


Andi Pratama

Lebih baru Lebih lama