STIESIA dan Kupu Sutra Teken MoA, Perkuat Pemberdayaan Disabilitas Lewat Tenun dan Kewirausahaan


STIESIA dan Kupu Sutra Teken MoA, Perkuat Pemberdayaan Disabilitas Lewat Tenun dan Kewirausahaan

 


STIESIA dan Kupu Sutra Teken MoA, Perkuat Pemberdayaan Disabilitas Lewat Tenun dan Kewirausahaan

SURABAYA | KEJORANEWS.COM: Pemberdayaan penyandang disabilitas melalui keterampilan dan kewirausahaan terus diperkuat. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya (STIESIA) menjalin kerja sama dengan Kupu Sutra melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) sebagai langkah memperkuat kolaborasi dalam pengembangan keterampilan, produksi, hingga pemasaran produk karya penyandang disabilitas.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari komitmen STIESIA untuk menghadirkan kontribusi nyata perguruan tinggi kepada masyarakat. Tidak hanya melalui transfer pengetahuan, tetapi juga dengan memberikan dukungan teknologi tepat guna dan pendampingan yang dapat membuka peluang kemandirian ekonomi.

Dalam rangkaian kerja sama tersebut, STIESIA memberikan dukungan berupa alat pintal serta meja ergonomis yang digunakan untuk menunjang aktivitas pengrajin Kupu Sutra.

Meja ergonomis tersebut dimanfaatkan dalam pelatihan desain dan pengembangan produk. Fasilitas ini diharapkan membuat proses kerja menjadi lebih nyaman sekaligus membantu para pengrajin menghasilkan desain yang semakin beragam dan memiliki nilai jual.

Sementara alat pintal diberikan untuk mendukung peningkatan keterampilan dan kapasitas produksi. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan kemampuan para penyandang disabilitas dari tahap keterampilan dasar hingga mampu menghasilkan produk tenun secara mandiri.

MoA Jadi Landasan Kolaborasi Berkelanjutan

Penandatanganan MoA antara STIESIA dan Kupu Sutra tidak sekadar menjadi seremoni kerja sama. Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi landasan bagi pelaksanaan berbagai program pemberdayaan yang dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Melalui kerja sama tersebut, kampus dapat mengimplementasikan kepakaran dosen dan sumber daya akademik untuk menjawab kebutuhan mitra di lapangan.

Sementara bagi Kupu Sutra, kolaborasi tersebut membuka ruang pengembangan kapasitas pengrajin disabilitas, baik dari sisi produksi maupun pengelolaan usaha.

Ketua Pengusul Hibah STIESIA, Juwita Sari, SM., M.SM., mengatakan Kupu Sutra dipilih sebagai mitra karena memiliki potensi pengembangan yang kuat dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

“Kami melihat potensinya bagus, perkembangannya juga bagus dan berdampak kepada masyarakat. Karena itu kami lanjutkan, MoU dengan Kabupaten Pasuruan, MoA dengan UKM nya,” ujarnya.

Menurut Juwita, dukungan kepada Kupu Sutra tidak hanya diberikan dalam bentuk peralatan. Sebelumnya, tim STIESIA juga telah melakukan berbagai pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas mitra.

“Selain alat teknologi tepat guna, kami juga memberikan pendampingan agar teman-teman disabilitas dapat mengembangkan keterampilan dan usahanya,” jelasnya.

Dari Memintal hingga Mampu Menenun

Kolaborasi tersebut memiliki latar belakang perjalanan panjang Kupu Sutra dalam memberdayakan penyandang disabilitas.

Arianto atau Anto dari Kupu Sutra menjelaskan, program pemberdayaan telah dikembangkan sejak sekitar 2019. Pada awalnya, para penyandang disabilitas diperkenalkan dengan keterampilan memintal benang.

Seiring waktu, keterampilan mereka terus ditingkatkan. Dari yang semula hanya memintal, kini sebagian peserta sudah mampu menenun dan menghasilkan kain.


“Dulu memintal, sekarang sudah bisa menenun. Jadi output-nya mereka sudah bisa membuat kain. Insyaallah ke depan akan terus kita kembangkan,” kata Anto.

Saat ini terdapat sekitar 10 orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka terus mendapatkan pendampingan dan akan dikembangkan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Hasil produksi juga mulai berkembang. Para pengrajin telah mampu menghasilkan berbagai produk tenun, termasuk selendang.

Bagi Anto, proses tersebut bukan semata-mata menghasilkan produk kerajinan. Lebih penting lagi adalah membangun rasa percaya diri penyandang disabilitas agar mampu berdiri secara mandiri.

“Awalnya teman-teman disabilitas banyak yang diremehkan. Saya tidak mau teman-teman disabilitas ini hanya dipandang sebelah mata. Mereka harus bisa bersaing dan punya usaha sendiri,” ujarnya.

Perkuat Desain dan Kenyamanan Kerja

Salah satu bentuk dukungan konkret STIESIA adalah penyediaan meja ergonomis yang digunakan dalam proses pelatihan desain.

Fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung posisi kerja yang lebih nyaman ketika pengrajin melakukan aktivitas desain maupun pengerjaan produk yang membutuhkan ketelitian.

Penguatan desain menjadi penting karena kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh kemampuan produksi, tetapi juga kreativitas dan daya tarik produk di mata konsumen.

Dengan dukungan tersebut, para pengrajin diharapkan mampu mengembangkan desain yang lebih variatif sehingga produk Kupu Sutra mempunyai karakter dan nilai tambah.

Dibekali Akuntansi hingga Digital Marketing

Kerja sama STIESIA dan Kupu Sutra juga menyentuh aspek pengelolaan bisnis.

Dr. Titik Mildawati, S.E., M.Si., Ak., CA., anggota tim hibah dengan kepakaran akuntansi, memberikan pendampingan mengenai pencatatan keuangan, penghitungan harga pokok produksi, hingga penentuan harga jual.

Sementara Sulistyo Budi Utomo, BBA., M.A., Ec., Ph.D., memberikan pendampingan pada bidang pemasaran.

Para pengrajin diperkenalkan dengan berbagai platform digital seperti Instagram, TikTok, Facebook dan WhatsApp. Mereka juga didorong memanfaatkan website dan marketplace untuk memperluas jangkauan pasar.

Produk Kupu Sutra bahkan telah memiliki etalase di marketplace, termasuk Shopee.

Pendekatan tersebut membuat pemberdayaan tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan kain. Para pengrajin juga dibekali pengetahuan bagaimana mengelola produk sebagai bagian dari aktivitas usaha.

Kampus dan Masyarakat Bersinergi

MoA antara STIESIA dan Kupu Sutra diharapkan menjadi pintu bagi kolaborasi yang lebih panjang.

Perguruan tinggi memiliki sumber daya pengetahuan dan kepakaran, sementara mitra memiliki pengalaman serta kebutuhan nyata di lapangan. Ketika keduanya dipertemukan, program pemberdayaan dapat diarahkan menjadi lebih tepat sasaran.

Bagi STIESIA, kolaborasi ini sekaligus menjadi bentuk nyata pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara bagi Kupu Sutra, kerja sama tersebut menjadi tambahan energi untuk terus mengembangkan potensi penyandang disabilitas.

Dari alat pintal hingga meja ergonomis, dari pelatihan desain hingga pemasaran digital, seluruh rangkaian program diarahkan pada satu tujuan: membuka jalan agar penyandang disabilitas tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan tersebut menjadi sumber penghidupan. Ans

Dengan ditandatanganinya MoA, STIESIA dan Kupu Sutra berharap kolaborasi tersebut dapat terus berkembang dan melahirkan semakin banyak produk kreatif sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama