Pembelajaran Daring, Apa yang Harus Dipertimbangkan?


Pembelajaran Daring, Apa yang Harus Dipertimbangkan?

Hendi Hidayat, M.Pd.-
CIREBON I KEJORANEWS.COM : Di abad 21 ini, orang-orang telah menyadari bahwa teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah menjadi salah satu fondasi bagi masyarakat modern. TIK pun kini telah banyak digunakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Banyak negara mempertimbangkan pentingnya TIK dan mencoba menguasai keterampilan dasar dan konsep TIK sebagai bagian dari proses pendidikan dalam proses belajar mengajar, termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan akan kemampuan teknologi dalam menyediakan lingkungan belajar dan mengajar yang dinamis dan proaktif. Lingkungan belajar yang menggabungkan TIK dapat memberikan kemungkinan untuk pembelajaran interaktif, di mana siswa berperan aktif, menerima umpan balik (dari guru dan / atau dari perangkat otomatis) dan dengan demikian meningkatkan pemahaman mereka dan membangun pengetahuan baru. Oleh karenanya, sejalan dengan era digital saat ini, para guru dituntut untuk mengintegrasikan TIK dalam pengajaran sehari-hari mereka dan menggantikan metode tradisional mereka dengan peralatan dan fasilitas modern.


Kurikulum terbaru menuntut guru untuk mengintegrasikan media proses pengajaran dan pembelajaran melalui penggunaan TIK. Penggunaan teknologi secara intrinsik memiliki tujuan memotivasi para siswa. Dengan kata lain, TIK dapat menangkap minat dan antusiasme siswa di kelas. Namun, jika kita hanya fokus pada aspek minat dan antusiasme pada siswa, itu akan bersifat relatif dan bukan metode permanen dalam proses belajar mengajar karena minat siswa akan selalu berubah seiring waktu. Penggunaan teknologi hanya akan bernilai bila ia memberikan manfaat intrinsik. Kita harus mempertimbangkan aspek praktis dari teknologi untuk membuatnya lebih berharga untuk membantu guru dalam proses belajar mengajar.


Ketika Indonesia sedang bersiap-siap dengan paradigma pergeseran tersebut, Kementerian Pendidikan Indonesia telah mencoba mengembangkan penyempurnaan pola pikir sejak Kurikulum 2013 yang ditulis dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional nomor 69 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum. di Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah yang secara khusus dijelaskan dalam rasional pengembangan kurikulum 2013 yang diuraikan pada poin 3 dalam aspek renovasi pola pikir bahwa “Sistem pengajaran dan pembelajaran yang terisolasi diubah menjadi pembelajaran dengan cara jaringan (pembelajar dapat memperoleh pengetahuan dari siapa pun dan dari mana saja yang dapat dijangkau dan diperoleh melalui internet)”, maka penggunaan TIK dalam proses belajar mengajar sangat diperlukan.


Selama pandemi covid-19 sekolah mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring. Meski demikian, secara garis besar, pembelajaran online di sekolah selama pandemi lebih terkesan sebagai sebuah emergency remote teaching. Pembelajaran daring sedari awal haruslah dipersiapkan memang untuk online design. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam mendesain pembelajaran daring diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, mempertimbangkan RPP sesuai pembelajaran online. Guru harus menyadari tujuan and prasarat pembelajaran, serta merencanakan pelajarannya dengan mengetahui di mana siswa memenuhi skema kerja dan rencana jangka menengah proses pembelajaran. Hal – hal yang mencerminkan pembelajaran daring harus muncul pada RPP yang mencakup aktivitas, langkah – langkah, serta penilaian dan penugasan.

Kedua, mempertimbangkan media atau platform yang digunakan. Media pembelajaran online sangatlah bervariatif. Media tersebut pastilah merefleksikan dua hal: apakah ia dalam mode synchronous atau asynchronous. Mode pembelajaran synchronous mengacu pada peristiwa pembelajaran di mana sekelompok peserta terlibat dalam pembelajaran pada waktu yang sama. Sedangkan pembelajaran asynchronous mengacu pada kebalikannya. Instruktur, pembelajar, dan peserta lain tidak terlibat dalam proses pembelajaran pada waktu yang sama. Tidak ada interaksi real-time dengan orang lain.

Ketiga, mempertimbangkan porsi synchronous atau asynchronous. Tehnologi seyogyanya menjadi penyederhana tugas manusia menjadi lebih mudah. Salah satu keunggulan dari pembelajaran online adalah fleksibilatas waktu. Penulis menilai bahwa porsi asincronous dalam pembelajaran daring haruslah lebih banyak. Hal ini dikarenakan jika pembelajaran online hanya merupakan pemindahan mode tatap muka kedalam tatap maya dalam bentuk synchronous, maka jelas tatap muka kelas jauh lebih baik. Kelebihan pembelajaran daring justru pada bagaimana siswa mampu menyelesaikan tugas – tugas pada mode asynchronous. Meskipun demikian, mode synchronous tetap dibutuhkan dalam konteks konfirmasi, kolaborasi, konklusi, dan sebagainya. Lebih jauh, penerapan porsi asynchronous yang lebih banyak dapat mencerminkan autonomus learning dan independent learning.

Terakhir, mempertimbangkan model penilaian. Penilaian merupakan rangkaian pembelajaran yang tak dapat dipisahkan. Dalam pembelajaran online, guru harus mempertimbangkan jenis penilaian yang memudahkan secara pengoprasian baik bagi murid maupun bagi guru dalam merekapitulasi hasil. Terdapat banyak cara yang dapat dilakukan seperti google form / quizz, email, ataupun media sosial ketika tes dalam bentuk penampilan. Lebih jauh, guru juga perlu mempertimbangkan pemberian umpan balik (feedback) yang tepat dan dapat diakses oleh siswa sehingga pembelajaran daring yang dilakukan mampu memberikan kesimpulan akhir yang komprehensif.

Sebagai penutup, tulisan ini hanya mendiskusikan 4 dari sekian banyak aspek yang dianggap pokok dalam mencapai kesuksesan pembelajaran online. Tanpa mengindahkan faktor lain, guru perlu menjamin hal – hal yang dipaparkan dalam tulisan ini agar proses belajar mengajar daring yang dilakukan bukan merefleksikan emergency remote teaching semata melainkan juga pembelajaran daring yang sesuai karakteristiknya. Meskipun pembelajaran tatap muka terbatas mulai diterapkan, guru – guru tetap harus meningkatkan kemampuan penerapan TIK dalam pengajaran. Karena tantangan ke depan dalam dunia pendidikan semakin besar, maka respon kita pun harus serius dalam menghadapi tantangan tersebut demi pendidikan di Indonesia yang lebih maju.  

 Penulis : Hendi Hidayat, M.Pd.

Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Mahasiswa S3 – Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Semarang


Lebih baru Lebih lama