![]() |
| Dapur MBG |
Para korban yang teridentifikasi adalah Mahdalena Aliani, Iwan Solehudin, Yoga Rizaldy Akbar, dan Wida Ningsih. Melalui penerima kuasanya, Indra Wahyudi, mereka menyatakan telah menyerahkan sejumlah dana setelah ditawari terlibat dalam proyek MBG yang rencananya akan dibangun di kawasan Tamansari dan Kawalu, Kota Tasikmalaya.
Namun, karena tidak ada realisasi sesuai janji, lokasi proyek kemudian dialihkan ke wilayah Sukamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Meskipun di lokasi baru terdapat bangunan yang ditunjukkan sebagai bagian proyek, para korban mengaku tidak mendapatkan kejelasan soal status kepemilikan, legalitas operasional, maupun struktur pengelola yang bertanggung jawab.
"Klien kami hanya meminta haknya, yaitu pengembalian dana yang sudah diserahkan. Total kerugian yang terverifikasi mencapai Rp328 juta. Somasi ini adalah kesempatan terakhir sebelum kami menempuh jalur hukum lebih lanjut," ujar Indra Wahyudi ketika dihubungi melalui pesan WhatsApp. Rabu (24/6/2026).
Korban juga telah melakukan konfirmasi ke Yayasan Anak Pintar yang sempat disebut dalam proses penawaran. Menurut keterangan yang diterima, yayasan tersebut menyatakan tidak memiliki keterlibatan apa pun dengan proyek yang ditawarkan. Informasi ini masih menunggu verifikasi lebih lanjut dari semua pihak terkait.
Sebelum mengeluarkan somasi, para korban diklaim sudah berusaha berkomunikasi secara langsung. Namun, hingga saat ini belum ada solusi nyata maupun pengembalian dana. Selain somasi, mereka juga telah mengajukan surat pengaduan ke sejumlah lembaga resmi.
Selain persoalan kerugian yang diklaim para korban, beredar pula sejumlah tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diduga berkaitan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam perkara tersebut. Percakapan itu memuat penyebutan sejumlah nama dan aktivitas yang berhubungan dengan lingkungan politik.
Namun demikian, keaslian dan konteks lengkap percakapan yang beredar tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Karena informasi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan mengenai keterlibatan pihak mana pun.
"Fokus utama kami adalah memulihkan kerugian korban dan menegakkan hukum. Semua informasi yang beredar butuh klarifikasi resmi dari pihak yang bersangkutan," tegas Indra.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan atau klarifikasi resmi dari Sherly Ingga Setiawati terkait tuduhan dan somasi yang disampaikan. Para korban berharap segera ada penyelesaian yang memberikan kepastian hukum.
Saat ini awak media ini masih melakukan konfirmasi ke pihal Sherly Ingga Setiawati guna klarifikasi masalah tersebut.
ASEP

Posting Komentar