Pesan Khutbah Idulfitri Ustadz H. M. Brambara, S.Sos., CAM., CLTQ, Hikmah Ramadan dan Substansi Idulfitri


Pesan Khutbah Idulfitri Ustadz H. M. Brambara, S.Sos., CAM., CLTQ, Hikmah Ramadan dan Substansi Idulfitri


Pesan Khutbah Idulfitri oleh Ustadz H. M. Brambara, S.Sos., CAM., CLTQ, Hikmah Ramadan dan Substansi Idulfitri

PASURUAN| KEJORANEWS.COM: Ustadz H. Brambara mengingatkan hakikat Ramadan dan substansi Idulfitri dalam khutbah Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang bertepatan pada Sabtu, 21 Maret 2026.

 Khutbah tersebut disampaikan di Masjid Al-Huda, Desa Pungging, Dusun Cemoro, Kecamatan Tutur (Nongkojajar), Kabupaten Pasuruan, di hadapan jamaah yang terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh remaja masjid (Remas), pemuda, serta tokoh agama setempat.

Dalam pesannya, Ustadz H. Brambara yang juga merupakan tokoh pemuda dan tokoh agama serta khodimul Majelis Pemuda Indonesia Bersholawat (MPIB), mengajak seluruh umat menjadikan momentum Ramadan sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia menegaskan bahwa ibadah yang dijalankan selama Ramadan diharapkan mampu mengantarkan umat kembali dalam keadaan suci atau fitrah.

Ramadan adalah anugerah sekaligus bukti kasih sayang Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW. Jika umat-umat terdahulu memiliki usia hingga ratusan bahkan ribuan tahun, maka umat Nabi Muhammad SAW rata-rata hanya memiliki usia sekitar 60 hingga 70 tahun. 

Oleh karena itu, dengan jatah umur yang relatif singkat, umat Nabi Muhammad SAW diberikan keistimewaan berupa pahala amal ibadah yang luar biasa melalui kemuliaan bulan suci Ramadan. Ditambah dengan adanya malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan, menjadikan Ramadan sebagai momentum pembersihan jiwa, limpahan pahala, serta curahan rahmat yang besar dari Allah SWT.

“Momentum Ramadan yang telah kita lalui menjadi sarana agar dosa-dosa kita diampuni dan kita kembali kepada fitrah,” ujar Ustadz H. Brambara dalam khutbahnya.

Ia juga menambahkan bahwa meskipun bulan Ramadan telah berakhir, semangat ketakwaan harus terus dijaga dan ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, perayaan Idulfitri bukan sekadar tradisi, melainkan momen untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan sesama, memutus rantai dendam dan kebencian, serta mempererat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah basyariyah sebagai wujud kasih sayang dalam Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

“Idulfitri menjadi sarana untuk saling memaafkan dan mempererat ukhuwah Islamiyah. Halal bihalal yang digagas atas ide brilian ulama besar Nusantara, KH. Wahab Hasbullah, menjadi sarana untuk saling memaafkan serta membuka ruang silaturahmi dengan keluarga, masyarakat, bangsa, dan tanah air. Tradisi halal bihalal ini hanya ada di Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain, termasuk negara tetangga,” jelasnya.

Ramadan juga disebut sebagai madrasah terbesar dalam kehidupan yang diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi setiap muslim setelah menjalaninya. Hal ini bertujuan untuk membentuk jati diri menjadi pribadi yang saleh, baik secara individu maupun sosial.

Usai pelaksanaan salat, Ustadz H. Brambara menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen masyarakat atas kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai khatib. Tahun ini merupakan kali kedua dirinya menjadi imam sekaligus khatib di Masjid Al-Huda tersebut, yang notabene merupakan masjid baru yang dahulu diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa.

“Syukran jazakumullahu khairan katsiran atas amanah ini. Semoga kita semua diberi umur panjang yang penuh berkah, menjadi hamba yang bertakwa, diampuni dosa-dosa kita, serta diterima seluruh amal ibadah kita,” ungkapnya.

Sementara itu, mewakili jajaran takmir dan Remas Masjid Al-Huda Dusun Cemoro, Desa Pungging, P. Isnaini menyampaikan terima kasih atas tausiyah yang diberikan. Ia menyebut masyarakat sangat antusias mengikuti rangkaian ibadah Idulfitri 1447 Hijriah tahun ini.

“Semoga menjadi keberkahan untuk kita semua. Aamiin,” ucapnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama