Natuna sangat Strategis, Ini Penjelasan Rodhial Huda tentang Natuna


Natuna sangat Strategis, Ini Penjelasan Rodhial Huda tentang Natuna

Rodhial Huda, Wakil Bupati Natuna-
NATUNA I KEJORANEWS.COM : Keberadaan Natuna sebagai sebuah daerah kepulauan memiliki arti strategis bagi keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Arti strategis ini sangat disadari oleh pemerintah Pusat, oleh karenanya pula pemerintah pusat terus melakukan pembangunan di segala sektor di Natuna, salah satunya sebagai upaya meningkatkan pertahanan dan keamanan.

 

Wakil Bupati Kabupaten Natuna, Rodhial Huda saat membuka Sarasehan untuk Mengedukasi Para Nelayan  Tokoh Masyarakat dan Pemuda dalam Rangka Menjaga dan Memperkuat Kedaulatan di Laut Natuna Utara, pada Jum'at  (26/11/2021) sore, di Ranai mengatakan, sebagai   kawasan strategis nasional pembangunan di Natuna tidak dapat dilakukan dengan cara biasa, karena membangun Natuna bukan hanya membangun sebuah pulau, namun membangun kepulauan.

Katanya, Natuna memiliki 7 pulau terluar tempat menarik garis batas teritorial Indonesia 12 mil, 24 mil dan 200 mil. Ke 7 Pulau tersebut kata Rodhial, adalah Pulau Tokong Boro di Desa Kelarik Barat Kecamatan Bunguran Utara yang berbatasan dengan Malaysia Barat.

"Bayangkan kurang satu pulau saja berapa luas negara ini akan kehilangan. Artinya membangun Natuna tidak bisa membangun pulaunya saja tetapi membangun kepulauan harus ada desain dari pemerintah pusat, " ujar Rodhial.

 

Lanjutnya, adapun beberapa pulau  terluar di Natuna, diantaranya adalah Pulau Semiun di Air Payang, Pulau Laut perbatasan dengan Negara Vietnam dan Malaysia, Pulau Sebetul di Desa Air Payang Pulau Laut Perbatasan dengan Negara Vietnam, Pulau Sekatung  di Desa Tanjung Pala Kecamatan Pulau Laut perbatasan dengan Negara Vietnam. Pulau Senua di Desa Sepempang Kecamatan Bunguran Timur perbatasan dengan Malaysia Timur. Pulau Subi Kecil di Desa Subi Kecamatan Subi perbatasan dengan Malaysia Timur dan terakhir Pulau Kepala di Desa Air Nusa Kecamatan Serasan Timur perbatasan dengan Malaysia Timur.

 

Selain itu kata Rodhial, membangun Natuna mau seperti apa? mau menjadikan Provinsi khusus? Otoritakah? yang penting bagaimana cara meningkatkan Natuna supaya tidak menjadi coblang dengan negara tetangga karena Natuna berbatasan dengan berbagai negara.  Terutama dengan kondisi nelayan Natuna yang hingga saat ini masih terbatas dalam alat tangkap dan kemampuan untuk mencapai ke Zona Ekonomi Eklusif (ZEE), sehingga di laut Natuna Utara tepatnya di kawasan ZEE, masih tampak minim nelayan lokal beroperasi.

 

"Kami di Natuna bisa saja, karena nelayan kami dianggap lemah, tidak ramai, kapalnya kecil, sehingga dianggap ZEE Natuna itu kosong, sehingga akan diisi nelayan dari luar Natuna, namun kondisi dilapangan itu terjadi pergesekan antara nelayan Natuna dengan nelayan dari luar, ini harus  menjadi perhatian pemerintah," tambah Rodhial.

Hingga saat ini dengan kondisi ketimpangan ini, jelasnya, harusnya pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada nelayan di Natuna dengan mendukung melengkapi sarana dan prasarana para nelayan lokal di daerah ini.

 

Kegiatan Sarasehan ini, dihadiri nelayan Natuna, perwakilan organisasi nelayan, pemkab Natuna, dengan menghadirkan pembicara Dosen Hukum Internasional Universitas Indonesia  Profesor, DR Hikmahanto Juana. Kegiatan yang digelar oleh Polres Natuna bekerjasama dengan Pemkab Natuna, HNSI dan KNPI Natuna ini juga diikuti secara virtual melalui zoom meeting.

(PISTON)

Lebih baru Lebih lama