{[["☆","★"]]}
Salah Satu Kapal Bantuan -
NATUNA I KEJORANEWS.COM : Pada awal tahun 2018, pemerintah pusat melalu Kementerian Kelautan perikanan telah menghibahkan 60  unit kapal bantuan bagi nelayan Natuna yang diserahkan hampir di seluruh Kecamatan.

Penyerahan kapal kepada nelayan itu dilakukan melalui Direktorat Jendral perikanan tangkap, bagi kelompok nelayan  melalui Koperasi Nelayan, selaku koordinator  lapangan pengelolaan kapal bantuan.

Salah satu kelompok nelayan yang mendapatkan bantuan kapal tersebut adalah Rukun Nelayan Lubuk Lumbang kelurahan Bandarsyah, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna. Namun sayangnya sejak diserahkan hingga saat ini kapal – kapal tersebut tidak dipergunakan oleh nelayan penerima.

Menurut Ketua Rukun Nelayan Lubuk Lumbang Kelurahan Bandarsyah Suherman,  spek kapal tidak sesuai dengan    laut Natuna yang merupakan laut lepas dengan gelombang yang cukup tinggi antara 2 hingga 6 meter, sehingga nelayan enggan menggunakan karena takut dengan resiko yang akan terjadi bila dipaksakan untuk melaut.

“Laut Natuna ini kan berbeda dengan laut lain, tentu armadanya harus berbahan dari kayu, bukan fiber, kalau pakai kapal bahan kayu aja kena hantam gelombang masih terasa, apalah lagi yang berbahan fiber, kena gelombang bunyi mau patah, goyang semua bodi kapal,” jelas Suherman, di Ranai, Kamis (20/2/2020).

Ada 12 unit kapal yang diterima Rukun nelayan Lubuk Lumbang, dengan jenis tonase 5 Gross ton, 10 Gross ton dan 30 Gross ton.

Suherman menambahkan , sebelum direalisasikan hibah kapal tersebut pihak Kementrian kelautan perikanan, telah meminta masukan kepada nelayan Natuna mengenai jenis kapal yang sesuai bagi perairan setempat. 
Namun sayangnya kapal yang perunitnya menghabiskan dana mencapai Rp.700 juta itu tidak sesuai dengan permintaan nelayan Natuna.

“Lain yang disosialisasikan, lain yang diserahkan,” sesal Herman. 

Selain bodi kapal, jenis  mesin kapal juga tidak sesuai dengan mesin kapal yang biasa digunakan oleh nelayan setempat. Menurut Taufik salah seorang nelayan yang tergabung dalam Rukun Nelayan Lubuk Lumbang, saat kapal tiba di Natuna, para nelayan setempat telah melakukan uji coba.

“Kami ajukan seperti ini, datangnya seperti ini, bukan kami cerewat, tapikan keinginan pemerintah membantu masyarakat nelayan pesisir, “ ujar Taufik.

 Taufik mengakui bahwa upaya pemerintah untuk membantu meningkatkan perekonomian nelayan sudah cukup besar, namun diharapkan dapat sesuai dengan kondisi daerah.

 “Tapikan tidak sesuai,kecepatan angin 16 knot, kami berlayar pakai 17 knot, perjalanan 16jam baru sampai pelabuhan, kan rugi kami ,” tambahnya.

Sistem pengelolaan melalui koperasi juga menjadi salah satu kendala bagi nelayan untuk menerima kapal bantuan tersebut, karena melalui koperasi setiap turun melaut, nelayan harus menyetor dengan jumlah tertentu.

Sementara kata Taufik dan Suherman, hasil tangkapan dibagi dengan sesama anggota kelompok Usaha Bersama dan Koperasi, tidak menutup untuk biaya operasional sekali melaut.

Saat ini   kapal – kapal bantuan dari kementrian kelautan perikanan itu mangkrak di pelabuhan nelayan di Natuna. Taufik menambahkan, dari awal pemerintah kabupaten Natuna dan Pengurus Koperasi Nelayan telah mengetahui bila bantuan kapal itu tidak sesuai dengan kondisi di Natuna.

“ Seharusnya tidak diterima, atau dikembalikan, kenapa malah ditahan, kan jadi beban kita dipakai tidak tapi kita harus merawat,” tutup Taufik.

(Rom)
 
Top