![]() |
| Musyawarah Waga Desa Lingai dgn Para Pelaku dan Instansi Terkait |
Kapal pompong yang berisikan 4 orang nelayan itu sempat melarikan diri namun akhirnya berhasil diamankan oleh warga setempat dan dibawa ke pangkalan Satwas PSDKP Antang.
Terkait hal tersebut, Kepala Desa Lingai, Iskandar, menyampaikan bahwasannya kejadian sekitar jam 21:00 Wib.
" Awalnya nelayan kami hendak pergi mengantar baut mor kipas pompong rekanannya yang mencari ikan di ujung pulau Lingai. Setelah balik tiba - tiba ketemu lah dengan mereka dan niat hati ingin bertanya sedang melakukan aktivitas apa disini namun belum sempat mendekat tiba - tiba mereka langsung lari dan dikejarlah oleh nelayan kami hingga sampai di Pulau Telibang akhirnya mereka berhasil diamankan dan dibawa ke Desa Lingai,” ucapnya Kades.
Lanjut Kades, jika pada saat itu mereka tidak lari tentunya warganya tidak mengejar.
“Hari ini masyarakat kami mulai capek dengan persoalan yang sering terjadi di wilayah kami, bahkan sewaktu kita kumpul di Desa Lingai, keinginan masyarakat meminta untuk langsung dibakar saja pompong mereka, namun saya cepat mengambil tindakan dan keputusan supaya tidak terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan, setelah melalui berbagai koordinasi yang saya lakukan akhirnya mereka dibawa lah ke pangkalan satwas PSDKP Antang untuk dicarikan solusi dan sangsi agar perbuatan ini tidak terulang kembali,” ujarnya.
Menanggapi laporan tersebut, Kepala Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Anambas, Amriansyah Amir, S.Pi., M.Ling, menyampaikan bahwa ia mendapat laporan dari Kades Lingai bahwasannya telah menemukan pompong nelayan yang sedang beroperasi melakukan nembak ikan dengan kompresor di kawasan konservasi wilayah Desa Lingai dan lokasi itu merupakan tempat nelayan pancing ulur.
" Kejadian ini sudah sering terjadi namun mereka kerap kali tidak memperdulikan konsekuensinya, di antara ke empat orang ini sebelumnya juga pernah terlibat melakukan hal yang sama terjadi di wilayah Desa Mengkait.
"Sudah sekian kali kita nasehati memberi arahan dan pembinaan bahkan diterapkan sanksi agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali biar ada efek jeranya. Penyebab utama konflik ini terjadi lantaran mereka tidak saling menghargai, sudah jelas - jelas kawasan tersebut area mancingnya nelayan pancing ulur yang mencari ikan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua HNSI Anambas, Agustar berharap persoalan itu bisa diselesaikan dengan cara musyawarah, kekeluargaan dan tidak dibawa ke ranah Hukum.
" Kita cari solusi terbaik karna walau bagaimanapun mereka semua nelayan kita. Sejauh ini saya juga telah berkoordinasi semua pihak terkait dengan permasalah nelayan lokal agar diselesaikan di Cabang Dinas DKP Provinsi dengan secara musyawarah,” ucapnya.
“Pengguna alat bantu kompresor sudah tidak dibenarkan lagi namun hingga kini belum ada solusinya dari pemerintah. Meski hari ini belum ditegaskan dari penegak hukum bahwasannya alat bantu kompresor tidak boleh dipergunakan untuk bekerja lagi namun, masih saja ada yang melakukan bekerja karna mau cari makan. Ayolah, kesadaran kita mansing - mansing dan saling menghargai jangan masuk kawasan wilayah nelayan pancing ulur masih banyak pulau - pulau yang jauh lagi tempat lokasi yang tidak digunakan nelayan pancing ulur. Terkadang kami juga sedih hanya melihat segelintir saja nelayan penembak, tapi semuanya jadi susah semua. Jadi kita cari solusi yang terbaik agar semua pihak ada epek jera dan jangan lagi memasuki wilayah pancing ulur jika kedepan masih juga, mau tidak mau ya harus menempuh jalur hukum sesuai berdasarkan aturan yang berlaku,” ujarnya.
Hasil kesimpulan dan kesepakatan ke 4 orang tersebut menyatakan sikap membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbutan yang terjadi di Desa Lingai. Selain dari pada itu menyatakan sikap sukarela menyerahkan kompresor kepada Cabang Dinas DKP Provinsi sebagai kompensasi atas kejadian yang terjadi
Hadir dalam musyawarah tersebut, Satwas PSDKP Anambas, Cabdis DKP Kepri, DP3 Anambas, Anggota Lanal Tarempa, Posal Mengkait, Anggota Polres Anambas, Polairud Polres Anambas, Kepala Desa Lingai dan warga Lingai, HNSI Anambas.
Yuni S



Posting Komentar