Minyak Tanah Langka, Warga Kota Betun Mulai Resah


Minyak Tanah Langka, Warga Kota Betun Mulai Resah

 

Foto:Ilustrasi

MALAKA I KEJORANEWS.COM : Kelangkaan minyak tanah dalam 2 pekan terakhir di Kota Betun, Kabupaten Malaka mulai langka, bahan bakar rumah tangga tersebut kini semakin sulit ditemukan di kios-kios setempat. Sehingga jikapun ada harganya melonjak mejadi Rp10 ribu per liter. Senin (25/5/2026).


Kondisi ini mulai membuat masyarakat resah, karena minyak tanah masih menjadi kebutuhan utama masyarakat untuk memasak setiap hari.



Veronika, seorang warga Dusun Misi, Desa Misi, Kecamatan Malaka Tengah, yang ditemui media ini pada Minggu, (24/5/2026), mengaku kesulitan mendapatkan minyak tanah meski sudah berkeliling mencari dari kios ke kios.



“Tadi kami cari ke mana-mana semua kios tapi tidak ada. Selama 2 minggu terakhir memang mulai langka, tapi masih ada sedikit walaupun harga sudah Rp10 ribu. Namun hari ini saya cari benar-benar tidak dapat,” keluh Veronika.



Dengan wajah penuh kecewa, Veronika mengatakan dirinya mulai mencari minyak tanah sejak pukul 14.00 WITA, namun hampir semua kios yang didatangi memberikan jawaban yang sama, yakni stok habis. Ia menduga ada warga yang membeli dalam jumlah banyak sejak pagi sehingga masyarakat lain tidak kebagian.



“Mungkin ada yang pagi-pagi langsung beli semua, karena saya cari dari jam dua siang semua kios bilang habis,” katanya.



Kelangkaan ini mulai menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Tidak sedikit warga yang menggantungkan kebutuhan memasak harian pada kompor minyak tanah. Berbeda dengan warga di desa-desa yang masih bisa menggunakan kayu bakar, masyarakat perkotaan lebih banyak bergantung pada minyak tanah untuk kebutuhan dapur setiap hari.


Veronika berharap pemerintah maupun pihak swasta terkait segera mengambil langkah cepat untuk memastikan ketersediaan minyak tanah kembali normal di pasaran. Ia juga meminta agar harga dapat kembali stabil sehingga tidak semakin memberatkan masyarakat kecil.



“Kalau begini terus kami bisa kelaparan, karena di kota sini tiap hari masak pasti pakai kompor dan butuh minyak tanah. Kalau di kampung masih bisa pakai kayu api,” tutupnya.



Kelangkaan minyak tanah ini kini menjadi perhatian warga. Masyarakat berharap ada respon cepat dari pihak terkait agar kebutuhan dasar rumah tangga tersebut tidak terus menghilang dari pasaran, sebab bagi banyak keluarga kecil di Betun, minyak tanah bukan sekadar bahan bakar, melainkan penopang hidup sehari-hari.



(Joli)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama