Ramadhan Keenam, Beragama Terkadang Memang Capek, Kolom Ramadan bersama Prof. Fauzan Zenrif


Ramadhan Keenam, Beragama Terkadang Memang Capek, Kolom Ramadan bersama Prof. Fauzan Zenrif

Prof. Fauzan Zenrif 
MALANG| KEJORANEWS.COM: Semalam hujan turun deras di Bukit Cemara Tidar sejak sebelum maghrib. Langit gelap, angin basah, dan suasana benar-benar menguji kenyamanan. Kami berbuka dalam irama hujan yang tak juga reda. Setelah itu anak laki-laki saya, Mas Nibras, harus kembali ke Ma'had. Ia tadi diminta menemani berbuka Umminya, maka ia pulang sebentar. Tetapi hujan masih deras.

Saya paksa tole memakai helm dan jas hujan. Tanggung jawab tidak boleh kalah oleh cuaca. Hujan boleh deras, tetapi perlindungan tetap harus ada. Ia berangkat dalam guyuran air yang belum juga ringan.

Lalu giliran saya akan shalat tarawih. Hujan masih turun. Dalam batin muncul pertanyaan yang tidak sederhana: apakah ini benar-benar karena Allah? Atau ada sedikit dorongan agar tetap dinilai konsisten, tetap terlihat shaleh? Pertanyaan itu terasa mengganggu. Ia membuat langkah batin terasa berat. Dan disitulah saya merasa, beragama memang terkadang capek.

Capek bukan pada jumlah rakaatnya. Capek bukan pada berdirinya. Capek bukan karena berulang kalinya. Tetapi pada kerja batin yang terus-menerus mengoreksi niat. Tubuh mungkin siap berdiri lama, tetapi hati sedang diuji, ini ibadah atau pencitraan? Ini ketundukan atau kebiasaan sosial? Allah swt sudah mengingatkan dengan sangat tegas tentang penyakit riya’:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ

 الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

 الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya’.” (QS. Al-Mā‘ūn: 4–6)

Bahkan dalam ayat lain Allah menggambarkan orang yang berinfak karena ingin dilihat manusia:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ kepada manusia…” (QS. Al-Baqarah: 264)

Artinya jelas, ibadah bisa gugur bukan karena kurang gerakan, tetapi karena salah orientasi. Nabi saw bahkan menyebut riya’ sebagai ancaman yang sangat halus:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ

 قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

 قَالَ الرِّيَاءُ

“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”

 Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?”

 Beliau menjawab, “Riya’.”

Di sinilah letak kelelahan itu. Riya’ bukan sesuatu yang selalu tampak kasar. Ia halus, sehalus tiupan angin malam. Ia bisa menyusup bahkan ketika kita berjalan dalam hujan menuju tarawih. menyelinap di setiap desah nafas suara lantunan ayat yang terbaca. Ia bisa hadir dalam bisikan kecil, biar orang tahu saya konsisten.

Tetapi mungkinkah justru pergulatan itu tanda iman saya masih hidup. Orang yang tidak pernah mengoreksi niatnya, mungkin tidak pernah merasa capek. Sedangkan saya, yang bertanya dalam diam di percikan setiap tetes hujan, sedang berusaha menjaga kemurnian apa yang saya rasakan sebagai iman.

Puasa keenam ini mengajarkan bahwa yang paling berat bukan menahan lapar, tetapi menahan keinginan untuk dilihat. Yang paling sulit bukan berdiri lama dalam shalat, tetapi berdiri hanya untuk Allah.

Dan jika beragama terasa melelahkan, mungkin itu karena kita sedang berperang dengan riya’.

 Dan perang melawan diri sendiri memang tidak pernah ringan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama