{[["☆","★"]]}
Pertemuan Virtual
NASONAL I KEJORANEWS.COM: Sejumlah negara termasuk Indonesia tengah melakukan berbagai kebijakan dalam memulihkan perekonomian akibat pandemi Covid-19 atau virus corona, salah satunya dalam sektor Blue Economy (Ekonomi Biru). Jum'at, (29/05/2020)

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves, Safri Burhanuddin menyampaikan bahwa pertemuan terkait Blue Economy, di mana membahas bagaimana respon dan aksi masing-masing negara, apa yang mereka lakukan terhadap pandemi Covid-19 ini melalui model Blue Economy.

"Hasilnya semua, kita gabung dan ketahui bahwa Covid-19 berdampak luar biasa terhadap sektor Blue Economy. Sehingga perlu kerja sama mengurangi dan memperbaiki dampak tersebut," katanya.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara International Maritime Webinar Series “Building Stronger Blue Economy After Covid-19 Pandemic” yang bekerja sama dengan CSIRO dan UN-ESCAP serta dihadiri lebih 600 peserta dari berbagai negara, pada pertemuan internasional secara virtual di Jakarta (28/5).

Untuk Indonesia sendiri, Ia menjelaskan pertama kali dilakukan dalam menghadapi pandemi virus corona adalah mengubah cara pandang seperti apa yang disampaikan Presiden Jokowi yakni hidup berdampingan dengan Covid-19.

"Setelah kita memperhatikan, kita pelajari bahwa kita akan hidup berdampingan dengan Covid-19 dalam waktu yang cukup lama, maka mau tidak mau kita harus menghadapi kenyataan ini. Cara menghadapi kenyataan ini dengan kita tidak harus bersembunyi, kita harus menghadapi dan tentu secara bertahap kita akan terbuka dengan hal ini," jelasnya.

Khusus dalam Blue Economy seperti wisata bahari, perikanan dan makanan laut, pemakalah dari CSIRO, Andy Steven menjelaskan bahwa permasalahan yang sama dihadapi oleh Australia. Hingga saat ini juga tengah berjuang mencoba untuk mempebaiki sistem logistik dan kembali memperkuat pasar.

"Nah sekarang dengan aktivitas ekonomi saat ini, pasar otomatis terbuka, kegiatan transportasi jalan. Kemudian kalau nanti mall atau restoran mulai buka, maka bahan-bahan baku seperti seafood akan bertambah. Ini akan memajukan pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Sejalan dengan hal itu, Director Environment & Development, UN-ESCAP, Dr. Stefanos Fotiou menekankan bahwa harus siapkan semuanya ini, dan menerima kenyataan sekarang dengan tentu caranya yang berbeda.

"Seperti kalau dulu kita bisa datang ke restoran beramai-ramai, untuk sekarang kita batasi karena social distancing, dan itu akan menyesuaikan dan adaptasi akan hal itu. Demikian juga dikatakan bahwa konservasi laut dan pengendalian perubahan iklim tetap harus berjalan walaupun pandemi ini sedang terjadi," terangnya.

Memang di satu sisi, lanjutnya bahwa Covid-19 menjadikan lingkungan lebih bagus, namun sayangnya membuat ekonomi tidak berjalan. Padahal jika membahas Blue Economy, maka baik lingkungan maupun ekonomi harus tetap berjalan dan memberikan manfaat bagi banyak orang di semua lapisan.

"Kalau cuma lingkungan yang jalan dan ekonomi tidak bermanfaat, maka Blue Economy belum jalan. Jadi ini sekarang bagaimana kita menyeimbangkan situasi baru dan dengan situasi ini kita bisa beradaptasi dengan Covid-19, tetapi ekonomi kita tetap berjalan dengan baik," pungkasnya.

Adapun peran Kemenko Marves dalam Blue Economy sendiri adalah sebagai leading sector sekaligus pembuat “big policy” sehingga semua saling bersinergi, dengan teknis di dalamnya ada Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian ESDM, Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Badan Koordinasi Penanaman Modal.

"Jadi kita semua harus jalan, harus saling bersinergi. Dalam hal ini ada suatu pembangunan berkelanjutan, programnya bertambah, penggunaan dan adaptasi teknologi termasuk dalam new energy menggunakan arus, solar, dan sebagainya," tutupnya.


Andi Pratama
 
Top