![]() |
| Hj. Tety saat kunjungi RSUD Palmatak |
Saat kunjungan berlangsung, tercatat 6 anak masih menjalani perawatan. Namun, jumlah sempat bertambah menjadi 9 orang, meski sebagian telah diperbolehkan pulang.
“Alhamdulillah, kondisi anak-anak sudah mulai membaik,” ujar Hj. Tety. Ia juga mengapresiasi kesigapan tenaga kesehatan dan dokter di RSUD Palmatak yang dinilai memberikan penanganan maksimal.
Di balik kabar membaiknya kondisi korban, pertanyaan besar masih menggantung,apa penyebab pasti kejadian ini.
Dugaan sementara mengarah pada makanan dari program Makan Bergizi Gratis dari Dapur SPPG di Desa Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah. Namun, hingga kini, kepastian tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium.
“Kita tunggu hasilnya. Jangan sampai berspekulasi,” katanya sambil menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam mengambil kesimpulan.
Menurut Hj. Tety, sebagai bagian dari fungsi pengawasan, DPRD tidak tinggal diam. Komisi I berencana menggelar rapat internal, berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum, hingga kemungkinan memanggil pihak-pihak terkait.
Langkah ke depan, menurutnya, harus berbasis data.
“Kalau sudah ada hasil, baru kita duduk bersama eksekutif dan pihak terkait untuk menentukan langkah, namun satu hal sudah pasti, pengawasan akan diperketat. " Ujarnya
Hj. Tety juga menyoroti pentingnya peran tenaga ahli gizi dan standar penyajian makanan. Ia mengingatkan agar makanan yang diberikan kepada anak-anak benar-benar dalam kondisi layak konsumsi sebelum didistribusikan.
“Jangan sampai kejadian seperti ini terulang,” tegasnya.
DPRD, lanjutnya, akan lebih aktif turun ke lapangan, bahkan membuka kemungkinan peninjauan bersama lintas instansi mulai dari dinas kesehatan hingga dinas pendidikan.
Di tengah kekhawatiran yang sempat menyelimuti, harapan perlahan muncul seiring membaiknya kondisi para korban. Namun bagi masyarakat Anambas, peristiwa ini menjadi pengingat keamanan pangan, terutama untuk anak-anak.
Yuni S

Posting Komentar