{[["☆","★"]]}
Suasana RDPU Komisi III
BATAM I KEJORANEWS.COM : Pimpinan Rapat, Sekretaris Komisi III DPRD Batam, Arlon Veristo menyampaikan dengan berdirinya 70 indusrti tentu kebutuhan air sangat tinggi, kebutuhan air harus mengalir 24 jam sehari. Kamis, (05/12/2019)

Jangan gara-gara air ini pihak investor lari ke negara lain (Vietnam, Brunie), Top Managemen dalam hal ini ATB dan BP Batam harus kita panggil untuk rapat dengar pendapat berikutnya, dan sementara ini BP Batam harus bertanggung jawab mensuplai air secara manual, secepatnya.

Menurutnya, Marketing bisa gagal dan salah menyampaikan kepada investor, dimana kenyataannya berbeda di lapangan. Berartii disini BP Batam tutup mata, dimana investor ada yang tidak bisa berjalan.

"Untuk itu Direktur, terutama Deputi orang-orang dari Jakarta/pemerintah Pusat mereka harus paham apa yang terjadi di Batam, jangan mereka hanya duduk-duduk aja disini. Jaminannya apa mereka selama investasi di Batam, kasihan investor," terangya turut hadir Wakil Ketua, dan Anggota Komisi III DPRD Kota Batam.

Hal tersebut diungkapnya, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan instansi-instansi terkait mengenai permasalahan kebutuhan air di kawasan industri Horizon, di ruang rapat Komisi III DPRD Batam, Batam Centre - Batam.

Sebelumnya pada pembukaan rapat, perwakilan dari PT. Lindung Alam Batam, Andri Wiranata mengatakan Lindung Alam Batam adalah Perseroaan Terbatas yang bergerak di pengolahan kawasan industri di Dapur 12, Sagulung - Batam. Pembangunan sejak tahun 2015, dan sampai saat ini pembangunan masih berjalan.

"Sampai hari ini sudah berdiri kurang lebih 10 industri yang aktif dan sudah merekrut kurang lebih 1000 sampai 1500 tenaga kerja, dengan target kita 70 industri/ tenant yang mana nantinya merekrut tanaga kerja kurang lebih sekitar 50 ribu tenaga kerja. Terkait permasalahan suplai air, Marketing kami sudah berjalan di Batam dan luar Batam, dan jangan berdampak terhadap kawasan industri yang kami pasarkan," ungkapnya.

Selanjutnya, Direktur Keuangan Horizon Industri Park, David Ricardo menyampaikan kebutuhan dasar infrastruktur seperti air, listrik, telekomunikasi, ini menjadi prioritas para investor di tenant/industri ini. Saat ini dari catatan yang diterimanya sudah berdiri 10 perusahaan antara sekitar seribuan lebih karyawan dan akan berkembang terus, dimana akan ada penambahan karyawan sekitar seribuan lagi.

"Sudah banyak investor tertarik untuk inivestasi disini namun terkendala dalam hal yang utamanya adalah air, dimana kita dapat laporan bahwa aliran air mengalir dari jam 24.00 WIB sampai dengan jam 04.00 WIB, dan mengalirnya sangat kecil, terdapat sebagian tenant mati air," ungkapnya.

Namun begitu, ia melanjutkan solusi sementara dengan adanya penampungan air/tangki  yang tadinya berkapasitas 1000 Liter, yang terisi hanya setengah oleh ATB. Ini untuk kebutuhan MCK aja masih kurang apalagi untuk produksi. dan ini sudah berlangsung 1.5 tahun. kondisi yang terjadi dilapangan.

"Ada satu investor yang sudah mengantongi ijin dari BP Batam, satu tahun yang lalu bergerak di bidang pengelolaan santan kelapa. Dan mereka belum beroperasi karena melihat kondisi dilapangan bahwa air tidak mencukupi untuk proses produksi, dan untuk itu kita minta solusi kedepan karena kebutuhan air itu sangat fital buat industri," tegasnya yang bekerjasama dengan PT Lindung Alam Batam.

Berikutnya penyampaian dari pihak BP Batam, Wahidin mengatakan sebelumnya sudah mengadakan pertemuan dari pihak ATB dan Perusahaan, intinya isi rapat air yang mengalir kawasan industri tidak mengalir secara optimal dan pihak pengelola memohon kepada pihak BP Batam untuk menindak lanjuti keluhan tersebut.

Pada rapat tersebut, Ia melanjutkan bahwa pihak ATB menjelaskan terkait pendistribusian air bersih ke kawasan industri tersebut, dikarenakan jaringan pipa ke lokasi melalui perumahan, atau KSB sehingga air sangat kecil mengalir.

Untuk itu pihak ATB sedang mengerjakan jaringan pipa khusus baru untuk ke kawasan idustri tersebut, yang sampai saat ini masih dalam proses perbaikan dan akan selesai pada bulan Februari 2020.

"Kesimpulan, pihak pengolahaan indusrti untuk dapat menyediakan tanki sesuai kebutuhan, namun informasi dari pihak pengelolaan kawasan dan industri/tentan air yang ditampung tidak ada. Berikutnya BP Batam meminta data-data pemakaian air di kawasan industri tersebut," jealsnya.

Hal senada disampaikan pihak ATB, Yudi mengatakan memang betul ada pertemuan di BP Batam. "Kita sudah bangun pipa cuman belum kita aktifkan, karena suply air menunggu pengerjaan di Waduk Duriangkan dan Piayu dan estemasi selesai akhir bulan Januari akhir atau awal Februari 2020," tutupnya.



Andi Pratama
 
Top