{[["☆","★"]]}
Kantor BPS Kota Batam, Batam Centre - Batam
BATAM I KEJORANEWS.COM : Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Rahyudin mengatakan, Kota Batam di bulan Maret ini mengalami deflasi 0,01%, angka ini lebih rendah dibandingkan secara nasional yang mencatatkan inflasi 0,11%. 

“Bulan ini kita deflasi, artinya rata-rata terjadi penurunan harga dan daya beli masyarakat jadi naik,” katanya di Kantor Walikota Batam, Batam Centre - Batam. Selasa, (02/04/2019)

Sementara itu, Ia menjelaskan inflasi tahun kalender Januari - Maret di Kota Batam sudah mencapai 0,33% (year to date/ytd), dan inflasi tahun kalender secara nasional sebesar 0,35%.

"Di Sumatera inflasi tahun kalender, Batam berada di urutan keenam, tertinggi adalah Tanjungpandan, dan yang terendah Lhokseumawe. Dari 24 Kota se-Sumatera, 11 daerah masih mengalami deflasi hingga bulan Maret ini," ungkapnya.

Ia melanjutkan, BPS berharap inflasi Kota Batam tahun 2019 tidak lebih dari 3%, dan bisa terwujud apabila harga tiket pesawat dan tarif listrik tidak naik.

“Target kita tak boleh lebih dari 3,5%, atau ada toleransi plus minus 1%. Tahun lalu inflasi tahunan kita 3,6%, masih cukup baik, tahun ini mudah-mudahan tidak lebih dari 3%, kalau tiket pesawat tidak naik, Bright (tarif listrik) tidak naik. Karena kedua itu jadi bobot terbesar,” ujarnya.

Sambung Rahyudin mengatakan, ada 380 komoditas di pasar yang disurvei tiap minggu oleh BPS,  dibagi menjadi tiga kelompok, yakni Kelompok inti, Administered price (diatur pemerintah), dan Volatile food (bergejolak).

"Pada bulan Maret ini, kelompok yang memberi pengaruh terbesar pada inflasi dibanding bulan Februari adalah Kelompok inti. Namun apabila dilihat dari tahun kalender, kelompok yang beri andil besar yaitu Administered price. Penyebab inflasi tertinggi di Batam adalah Administreed price, yang diatur pemerintah, yang pakai SK, Perda. Seperti harga tiket pesawat, listrik, parkir,” tutupnya.





humas/atm
 
Top