{[["☆","★"]]}
Ketua Insa Batam saat Memberikan Keterangan Usai Seminar (31/01)
BATAM I KEJORANEWS.COM : Ketua Indonesian National Shipowner Association (INSA) Kota Batam, Osman Hasyim mengatakan, Provinsi Kepuluan Riau ini sebetulnya sudah tersedia potensi, harusnya bisa mengelola mulai dari Perikanan, Parawisata, dan Perkapalan khususnya di Batam. Minggu, (03/02/2019)

"Kita itu Industri Maritim,  dan multiplier effect ini banyak sekali, dan yang harus kita sediakan adalah kenyamanan, kepastian hukum, pelayanan prima dan tarif yang efesien, tanpa ini mana mau orang datang, dan sejauh ini belum terealisasi," ungkapnya.

Ia menjelaskan, dari Rp. 4000 Trilliun nilai potensi perikanan secara nasional, di Kepri saja itu mencapai nilai Rp 200 trilliun. Kemudian Perkapalan, ini sangat besar juga. Tapi, kita terjerumus pada hal-hal yang tidak perlu, seperti ada kebijakan lokal, kemudian kebijakan yang menghambat kontra produktif seharusnya tadi menjadi pemasukan negara sehingga hilang begitu saja.

"Khususnya Batam ini, kita sudah berjuang untuk menurunkan tarif dalam rangka memberikan tarif yang bersaing sehingga kapal-kapal mau beraktifiktas disini, kemudian menghidupi Shipyard serta menyerap tenaga kerja kita, tapi sampai saat ini masih stucknand/macet. Tarif sudah turun, tapi masih terhenti juga karena ada kebijakan dibawahnya lagi (Kantor Kepelabuhan Laut BP Batam) yang membuat peraturan tersendiri sehingga menjadikan tidak kepastian hukum dalam hal ini." Jelasnya.

Menurutnya, seharusnya Batam dalam situasi apapun dia mampu eksis, sebagai contoh pada saat ekonomi global turun, kapal-kapal tidak jalan dan menyandarnya itu di perairan Batam, sehingga banyak potensi yang didapat. Karena letak strategis Batam ini serta tanaga kerja dari SDM terlatih, dan sudah terpakai dimana-mana hingga ke negara Dubai, Malaysia, Vietnam, masa depan Batam itu besar sekali, hanya diperlukan tangan dingin.

"Setiap kapal masuk multipliernya besar sekali, dalam masa transisi ini aja mampu memberikan PNBP paling tidak sekitar Rp 1 Milliar satu kapal (super tanker), dan ini akan kita dorong terus seandainya kita mampu memberi kepercayaan, dan kapal-kapal seperti itu mau melakukan kegiatan disini, pendapatan yang dihasilkan jika dikalikan setahun sudah berapa banyak nilainya. Selain itu dari labuh jangkarnya saja per10 hari bisa menghasilkan Rp 40 Juta dikalian aja sebulan sudah berapa, apalagi kalau setahun. Ini satu kapal, belum dari bongkar muatnya." Terangnya.

Namun yang terjadi saat ini, Ia menambahkan, banyak kapal yang mau masuk ke Batam dan lari ke luar negeri, dimana setiap masuk kapal ada aja masalah, sementara orang asing/PMA ini tidak mau berbelit-belit,  tarif deberikan 0% dari Perka yang sudah direvisi, tapi ada muncul surat edaran dari Kepala Kantor Pelabuhan Laut BP Batam, yang mana tarif  0% tersebut harus memenuhi persyaratan ini itu segala macam, kan jadi ketidak pastian itu.

"Dishipyard itu mampu menyerap tenaga kerja sekitar 300 ribu orang di Batam ini, sekarang apa yang terjadi hanya sisa 4 sampai 5 ribu tenaga kerja saja. Dan kontribusi perkapalan tahun ini sangat rendah sekali dari 105  Industri Perkapalan/Shipyard, tak lebih dari 20 Shipyard yang eksis," pungkas Osman Hasyim usai mengisi acara seminar Meningkatkan Daya Saing Ekonomi Daerah untuk Mendorong Ekspor Nasional, di Gedung Bank Indonesia, Batam Centre - Batam.




(atm)
 
Top