{[["☆","★"]]}
Sudirman, Camat Pulau Laut
NATUNA I KEJORANEWS.COM : Sudah hampir 3 minggu warga Kecamatan Pulau laut kabupaten Natuna, mengalami kelangkaan Bahan Bakar minyak (BBM) Jenis Premium.

Kelangkaan ini terjadi akibat tidak adanya kapal motor (KM) yang membawa Premium bagi Stasiun bahan bakar Nelayan (SPBUN) di wilayah tersebut.

Camat Pulau Laut Sudirman, saat dihubungi melalui sambungan telepon seluler mengatakan, pihaknya sudah meyampaikan permasalahan kelangkaan bensin ini kepada Kepala Bagian migas (Kabag Migas) setda Natuna terkait kelangkaan Premium di wilayahnya.

"Kami sudah sampaikan masalah kelangkaan bensin di Pulau laut, menurut penjelasan Kabag Migas, permasalahan itu terjadi di masalah distribusinya aja, tak ada kapal yang mengangkut BBM itu," jelas Sudirman, Senin (7/1/2019).

Ketersediaan BBM di Pulau Laut saat ini ditopang oleh adanya pangkalan minyak yang membeli bensin dari Kecamatan tetangga yakni kecamatan Bunguran Barat, namun kendalanya adalah selain jumlahnya terbatas harga yang dijual juga cukuo tinggi berkisar antara Rp. 8 ribu hingga Rp.8.500 perliternya.

Sementara itu menurut Kepala Pertamina Depo Natuna, Budi Muftanto, suplai BBM terutama Premium ke wilayah kecamatan Pulau Laut secara teratur dilakukan setiap Minggu oleh Pertamina melalui PT yang mengelola SPBUN di wilayah tersebut. Namun kendala yang dihadapi adalah keterbatasan transportasi laut untuk mengangkut BBM dari Sedanau Kecamatan Bunguran Barat menuju ke Kecamatan Pulau Laut.

"Kita kirim terus  tapi memang BBM yang tanggal 24 Desember kemarin saja belum diangkut oleh Pengelola SPBUN ke Pulau Laut. Karena paska terjadinya kebakaran kapal pengangkut BBM di Selat Lampa Oktober lalu, banyak kapal motor yang takut mengangkut BBM," jelas Budi Muftanto, Senin (7/1/2019).

Kendala yang dihadapi tidak hanya masalah tidak adanya kapal motor pengangkut, akan tetapi juga kuota BBM yang harus diangkut ke Pulau laut. Setiap kapal motor harus mengangkut Maksimal 20 Kilo Liter BBM sementara saat ini BBM yang tersedia, baik Premium, Kerosine maupun Solar, jumlahnya masih kurang dari 20 Liter, sedangkan kuota minimal yang boleh diangkut oleh Kapal Motor juga 20 kilo liter.

"Karena kalau ngangkutnya dibawah 20 kiloliter, ya tekor biaya operasional kapalnya aja," tutup Budi.
Sementara pihak Pertamina sendiri mengaku belum ada kapal jenis besi dengan ukuran kecil, yang dapat mengangkut BBM kewilayah pulau laut saat ini.

Adw
 
Top