{[["☆","★"]]}
File photo of militants in Syria's Aleppo,
 22 May 2013. (Photo by AFP)
AMSTERDAM I KEJORANEWS.COM : 
Pemerintah Belanda telah mendapat kecaman setelah sebuah laporan berita mengungkapkan pihaknya telah memberikan dukungan logistik untuk kelompok "oposisi" Suriah yang dilabeli sebagai organisasi teroris oleh jaksa Belanda.

Laporan berita yang disiarkan oleh penyiar publik nasional, mengatakan Amsterdam telah memberikan "bantuan tidak mematikan" (NLA) kepada 22 kelompok oposisi bersenjata, termasuk organisasi teroris Jabhat al-Shamiya, yang berperang melawan tentara Suriah.

Pemerintah Belanda dilaporkan menyediakan truk pick-up, seragam dan peralatan lain untuk kelompok teroris tahun lalu, tambah laporan itu.
Di PressTV Iran, Presiden Assad mengatakan negara-negara Barat tertentu masih mendukung kelompok-kelompok teroris di Suriah.


Ini menyebabkan badai protes dari anggota parlemen Belanda, yang dengan keras memprotes pemerintah negara itu pada hari Senin (10/9/2018) dan meminta penjelasannya.

Kabinet pemerintah diberi batas waktu memberi jawaban terkait hal itu pada hari Selasa (11/9/2018), di mana mereka harus menjawab pertanyaan tersebut, yang termasuk pertanyaan apakah ada bantuan ke Suriah yang mungkin diberikan pada kelompok-kelompok ekstremis, kata anggota parlemen Partai Demokrat Kristen, Pieter Omtzigt, kepada AFP.

Anggota parlemen Belanda Sjoerd Sjoerdsma juga menggambarkan laporan berita itu sebagai hal "mengejutkan", dan bertanya, "Bagaimana ini bisa terjadi, terlepas dari semua peringatan kita selaku anggota parlemen?"

Pengungkapan pada hari Senin itu datang beberapa hari, setelah Menteri Luar Negeri Belanda, Stef Blok mengumumkan pemerintah memotong semua dukungan terhadap apa yang disebut kelompok oposisi "moderat" di Suriah.


Di PressTV Iran, Presiden Assad mengatakan negara-negara Barat tertentu masih mendukung kelompok-kelompok teroris di Suriah.

Pemerintah Barat dalam beberapa tahun terakhir mencoba untuk membenarkan dukungan mereka untuk teroris yang beroperasi di Suriah dengan memberi label mereka sebagai oposisi moderat yang bekerja untuk menggulingkan pemerintah Bashar al-Assad.

Menurut Assad, AS mencoba untuk mempromosikan gagasan yang disebut oposisi moderat di Suriah. Namun, "mereka belum mampu memasarkan kebohongan ini karena fakta di lapangan membuktikan sebaliknya, bahwa semua yang mereka dukung adalah ekstremis," yang termasuk Daesh, Jabhat Fateh al-Sham, sebelumnya dikenal sebagai al-Nusra Front , dengan ideologi ekstremis dan teroris yang sama.

Tahun lalu, bahkan pemerintah AS mengakhiri sebuah program gelap Amerika untuk memberikan senjata dan pasokan kepada kelompok-kelompok oposisi "moderat" setelah terungkap bahwa mereka memang teroris yang bertujuan untuk membangun "khalifah" mereka di Suriah.

Sumber: presstv.com
 
Top