{[["☆","★"]]}
ANAMBAS I KEJORANEWS.COM : Dalam upaya mengatasi banyaknya sampah di Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA), Pemerintah Daerah (Pemda) KKA bersama dengan elemen  masyarakat setempat, pada tanggal 15 September 2018 lalu, melakukan gotong royong- royong (Goro) membersihkan sampah.

Goro massal yang dilakukan bersamaan dengan Gerakan Bersih-bersih dunia yang disebut dengan World Cleanup Day (WCD) tersebut, tidak otomatis langsung dapat membersihkan daratan dan laut Anambas seketika, mengingat masih relatif banyaknya berbagai jenis sampah yang masih ada di lingkungan darat dan laut Anambas. Ditambah tanpa adanya kesadaran masyarakat untuk hidup bersih tentu akan kembali menambah sampah yang sudah ada. 

Untuk mengingatkan masyarakat  akan bahaya sampah di laut dan agar masyarakat dapat menerapkan hidup bersih, Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Pekanbaru, yang merupakan Unit Pelaksana Teknis di bidang Kawasan Konservasi Perairan Nasional Ditjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melakukan sosialisasi tentang berbagai jenis sampah yang dapat membahayakan generasi penerus bangsa. 

Sosialisasi yang dilakukan melalui poster yang dipasang di sekolah-sekolah Anambas serta tempat- tempat umum berisi tentang sampah, yang diambil oleh Loka KKPN Pekanbaru dari rilis NOAA (National Oceanic and Atmospheric) sebuah lembaga penelitian Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Departemen Perdagangan Amerika Serikat yang berfokus pada kondisi samudera dan atmosfer.

Berikut penelitian NOAA tentang sampah yang dirilis Loka KKPN Pekan baru kepada media ini Kamis (27/9/2018) :
(1) Jenis sampah plastik yang terbanyak adalah botol dan pembungkus (kantong) plastik (56%), dimana 75% berasal dari perumahan (masyarakat). Setiap tahun, rata-rata satu orang menghabiskan sebanyak 700 kantong plastik.

(2) Lebih dari 80% sampah plastik di seluruh dunia langsung dibuang ke tempat sampah tanpa didaur ulang, yang pada akhirnya menuju ke laut. Pencemaran sampah plastik di laut sangat besar dan telah ditemukan di semua bidang laut, mulai dari garis pantai, pesisir, laut dalam, dan bahkan di laut beku (es) Kutub Utara.

(3) Sebanyak 90% sampah di laut adalah plastik (jumlah sampah plastik yang masuk ke laut dari daratan antara 4,8-12,7 juta ton pada tahun 2010, dengan estimasi terbaik sekitar 8 juta ton). Jika kecenderungan ini terus berlanjut, sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa pada tahun 2050, sampah plastik di laut akan lebih banyak daripada jumlah ikan.

(4) Indonesia adalah Negara peringkat kedua terbesar sebagai penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

(5) Plastik di laut dapat mengancam keanekaragaman kehidupan laut melalui cara terbelit/terjerat, termakan, atau terkontaminasi. Dari sisi estetik, cemaran plastik mengotori saluran air, sungai dan laut. Dampaknya akan terjadi terhadap lebih dari 660 spesies organisme, mulai dari yang terkecil (plankton) sampai yang terbesar (ikan paus), termasuk terhadap ikan-ikan yang ditujukan untuk konsumsi manusia.

(6) Sungai merupakan vektor utama yang memungkinkan sampah plastik dan sampah lainnya masuk ke laut. Pencegahan pembuangan sampah ke sungai perlu dilakukan secara serius.

(7) Padahal, plastik yang terbuat dari minyak bumi, merupakan polimer sintetik yang tidak dapat terdegradasi oleh mikroorganisme. Plastik sulit dihancurkan oleh alam, tidak terurai di laut, hanya hancur menjadi fragmen atau potongan-potongan kecil atau sangat kecil akibat pelapukan dan paparan sinar ultraviolet.

(8) Kantong plastik biasa membutuhkan waktu 10-20 tahun untuk terurai. Botol plastik memerlukan waktu yang lebih lama lagi. Karena polimernya lebih kompleks dan lebih tebal, botol plastik memerlukan waktu 50-80 tahun untuk hancur. Sedangkan sterofoam biasa yang sering digunakan di Indonesia, membutuhkan waktu 500 tahun untuk bisa hancur sempurna (bahkan ada yang menyatakan tidak bisa terurai).

(9) Bahkan menurut NOAA, waktu yang diperlukan untuk dekomposisi botol plastik adalah 450 tahun dan tali senar pancing 600 tahun.

(10) Sebuah penelitian dari Universitas Leicester, Inggris, menghasilkan kesimpulan sementara bahwa tanah dan lautan di Planet Bumi akan terkubur oleh lapisan plastik hasil kegiatan manusia dalam setengah abad ke depan. Plastik juga diperkirakan akan menjadi "fosil" di masa depan.

Lionardo
 
Top