{[["☆","★"]]}
Photo Bersama Dewan Pers dan Pimpinan Media Beserta Humas se-Kepri
BATAM I KEJORANEWS.COM : Salah faktor penting yang membuat Negara menjadi kaya adalah karena adanya kemerdekaan pers di dalam negara tersebut, hal ini diungkapkan oleh Bambang Harymurty, mantan pemimpin redaksi majalah tempo dan mantan President Direktur PT Tempo Inti Media Tbk (2007 -2017), dalam presentasinya saat menjadi narasumber di Seminar dan workshop tentang program "Bakti untuk Negeri" yang digelar Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI), Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bekerjasama dengan Dewan Pers, di Hotel Nagoya Hill, Batam. Kamis (30/8/2018).

Dalam kegiatan yang diikuti oleh sebanyak 75 pimpinan media dan Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Pemerintah se- Kepri ini, Bambang Harymurty menjelaskan,  kemerdekaan pers menjadi faktor penting yang membuat Negara menjadi kaya setelah adanya survey atau penelitian yang dilakukan oleh Bank Dunia (World Bank) setelah 50 tahun membantu negara-negara miskin di dunia.

" World Bank adalah bank dunia yang sahamnya berasal dari seluruh negara-negara di dunia, bank ini didirikan bertujuan untuk menghilangkan kemiskinan di suatu negara. Jadi negara-negara miskin diberi pinjaman dengan bunga yang kecil agar negara tersebut dapat tumbuh dan maju menjadi negara kaya. Namun setelah sejumlah negara miskin tersebut dibantu dengan miliaran dollar ternyata setelah 50 tahun tidak juga bisa kaya tapi tetap miskin. Setelah diteliti ternyata indikasinya, pinjaman tersebut dikorupsi oleh pejabat-pejabat negara, dan setelah diteliti lagi oleh sejumlah pakar ekonomi dari Bank Dunia, ternyata negara-negara tersebut persnya tidak hidup alias dikekang oleh pemerintahnya, sehingga pejabat-pejabat yang korupsi leluasa melakukan tindakannya itu, " ungkap wartawan senior ini.

Tidak sampai di situ, terang wartawan yang telah mengabdi 35 tahun di majalah Tempo ini, lanjutnya Bank Dunia juga melakukan penelitian terhadap negara-negara yang sudah kaya.

" Negara yang sudah kaya itu dibagi 4 golongan, yaitu negara sangat kaya, negara kaya, negara menengah dan biasa. Dan ternyata benar,  negara sangat kaya tersebut kehidupan persnya sangat baik atau merdeka 100%, seperti negara Taiwan dan juga Korea Selatan. Begitu juga seterusnya, negara kaya saja ternyata kebebasan persnya separuhnya atau 50%, dan berikutnya begitu juga untuk negara menengah kebebasan persnya 40 persen, dan seterusnya. Jadi dengan adanya pers ternyata informasi itu cepat dan pejabat yang korupsi dapat cepat ditangkap sehingga negara menjadi makmur, " terangnya.

Dari penelitian itu dikatakan  Bambang, akhirnya Bank Dunia menyimpulkan bahwa pers tidak hanya berkorelasi pada politik saja, namun kebebasan pers juga berpengaruh dengan faktor ekonomi di satu negara, sehingga bank dunia yang awalnya hanya menangani masalah ekonomi, kemudian juga membantu mengembangkan kehidupan pers di satu negara.

Menurut Bambang, informasi yang dibuat jurnalis itu tidak ada yang negatif atau berbahaya, hanya cara penyampainnya yang bisa menjadikannya negatif, untuk itulah dibuat adanya Kode Etik Jurnalistik (KEJ) untuk para pers (jurnalis/ wartawan), yang mana isi KEJ itu berisi tentang cara atau norma menyampaikannya, sehingga KEJ itu sangat penting.

" Contohnya misalnya ada kebakaran di dekat gedung sebelah, kalau kita sampaikan dengan baik informasi kepada teman kita maka tidak akan masalah. Tapi kalau kita sampaikan dengan sembarangan semisal " awas gedung sebelah kebakaran!" dengan seperti itu, semua orang bisa berlarian dan himpit-himpitan terpijak-pijak di tangga itu. Jadi di sinilah pentingnya wartawan itu memahami KEJ, " jelasnya.

Rdk
 
Top