{[["☆","★"]]}
Nelayan Pering Menunjukkan Bubu yang tidak bisa digunakan
NATUNA I KEJORANEWS.COM: Sudah setengah tahun ratusan unit bubu perangkap ikan bantuan dari pemerintah pusat untuk nelayan Natuna terkumpul  di Pelabuhan Pering, Kelurahan Bandarsyah Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, karena tidak bisa digunakan.

Terlihat, karung pembungkus bubu itupun sudah hancur dimakan cuaca. Padahal bila dilihat dari kualitas bubu tidaklah mengecewakan, dengan rangka terbuat dari besi yang dibungkus plastik selang dan jaring dari bahan nilon.

Pelabuhan Pering
Menurut Adri salah seorang nelayan Pering, yang ditemui dipelabuhan pering, bubu tersebut tidak dapat dipergunakan, karena tidak sesuai dengan kondisi perairan di Natuna.

Pelabuhan Nelayan
"Tidak bisa kami pergunakan, karena tidak sesuai dengan spek yang kami perlukan. Lagipula kami tidak pernah minta bubu itu," kata Adri, di Ranai, Selasa (2/1/2018).

Hal senada juga diungkapkan oleh nelayan pering lainnya yang tergabung dalam Rukun Nelayan Lubuk Lumbang kelurahan Bandarsyah, Yadi dan Wahab.

Bahkan para nelayan Pering itu mengatakan bahwa pihak Koperasi nelayan selaku penerima bantuan dari Pemerintah Pusat itu  tidak pernah menyampaikan mengenai bantuan tersebut kepada para nelayan.

"Kami tidak pernah diajak bicara oleh pengurus, jadi kami tidak tahu, tahu - tahu sudah datang bantuqn bubu itu," ujar Wahab.

Jawaban dari para nelayan itu, mengantarkan kami untuk mengkonfirmasi hal tersebut kepada pengurus Koperasi Nelayan setempat. Sampai berita ini diturunkan, ketua Koperasi Nelayan Lubuk Lumbang Sejahtera belum berhasil ditemui dan tidak menjawab saat nomor kontaknya dihubungi.

Kami akhirnya bertemu dengan salah seorang anggota koperasi, Muhamad Rafi. kepada kami, Muhamad Rafi menjelaskan, bahwa  bantuan bubu itu merupakan permintaan dari anggota Koperasi dan pengurus rukun Nelayan Lubuk Lumbang kepada kementriaN Kelutan perikanan sekitar setahun yang lalu.

 Saat permintaan itu disampaikan menurutnya, pihak dari kementrian juga telah melakukan survei lapangan bahkan juga telah ditunjukan bentuk bubu yang biasa dipergunakan oleh nelayan di Natuna.

"Waktu verivikasi petugas kementrian ada turun ke Ranai, dan sueah kami tunjukan model bubi yang kami butuhkan, tapi ternyata datangnya tidak seperti yang kami minta,kami juga tidak tahu dimana kesalahan penyampaian kami," kata Rafi.

Hampir senada dengan Rafi, ketua Rukun Nelayan Lubuk Lumbang , Herrman yang dihubungi via telepon mengakui bahwa bubu tersebut memang tidak dipergunakan oleh nelayan.

Namun sebelumnya telah dilakukan uji coba pemasangan bubu itu disekitar perairan pering, akan tetapi tidak menghasilkan apapun.

"Kami sudah coba pasang 30 unit,tapi satupun tidak ada yang dimasuki ikan,daunpun tidak ada masuk," kata Herman.

Herman menambahkan, hingga saat ini bubu itu memang belum diserahkan oleh koperasi kepada kelompok nelayan. Hal ini dikarenakan, para nelayan tidak mau menerima bubu itu karena tidak bisa dipergunakan.

"Bagaimana mau diserahkan kepada nelayan, nelayqn bilang mereka tidak mau,tidak bisa digunakan. Mungkin solusinya akan kami jadikan rumpon ikan saja," tambah Herman.

Sementara itu Pejabat Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Natuna, Suherman SE, saat dikonfirmasi mengenai bantuan itu mengatakan pihaknya akan mengecek kelapangan guna mengetahui alasan dari para nelayan enggan menerima.

"Itukan bantuan dari Kementrian ,brarti dengan APBN,saya juga belum tahu apa sbabnya tidak dipergunakan oleh nelayan,saya akan cari tahu dulu,setelah itu baru kita cari solusinya," kata Suherman, Selasa (2/1/2018).
Bantuan bubu bagi nelayan itu, tidak hanya diterima oleh nelayan Pering Kelurhan Bandarsyah, namun juga oleh semua nelayan disetiap kecamatan di Natuna. Namun semua bubu itu tidak dipergunakan oleh nelayan dengan alasan yang sama.

Lain bubu, bantuan dari Kementrian Kelautan Perikanan yang juga diterima oleh Kelompok nelayan lubuk Lumbang Pering adalah Ice Flex. Namun mesin pembuat bunga es tersebut juga teronggok tidak dapat dipeegunakan. 

Pasalnya bantuan itu,tidak disertai dengan mesin diesel untuk menghidupkan mesin Ice flex. Padahal saat uji coba mesin berproduksi dengan baik. Namun menurut ketua Rukun nelayan setempat, selain tidak ada mesin diesel, biaya operasional iceflex juga terlalu tinggi.

"Tidak cukup untuk bayar pekerja pembuat es,dan biaya es nya terlalu mahal, lebih mahal daripada es yang dijual masyarakat," ujar Herman.

Pada saat penyerahan mesin iceflex menurut Herman, perwakilan dari Kementrian beejanji akan segera mengirimkan mesin pembangkit.

" "Sudah mau satu tahun, tapi mesinnya tidak nampak tiba sampai sekarang," tutup Herman.

Adw
 
Top