{[["☆","★"]]}
NATUNA I KEJORANEWS.COM : Kepala Kepolisian Resor Natuna Ajun Komisaris Besar Polisi Charles Panuju Sinaga mengakui, Kepolisian Perairan di kesatuannya, memerlukan kapal patroli presentatif, demi menjaga laut dari segala macam bahaya, dari keamanan masyarakat hingga negara. Bahaya keamanan itu, seperti: pencurian ikan atau illegal fishing, penyeludupan minuman keras, narkotika, obat-obat terlarang dan lainnya.

“Terus terang, kita punya kapal patroli jenis C3,” kata perwira melati dua itu, duduk di ruang tunggu tamu, usai konferensi pers di markasnya, Jalan Adam Malik, Ranai, Natuna, Jumat pagi 15 September 2017. 

“Kapal patroli C3 itu, hanya mampu mengejar target 100 meter kelaut,” katanya lagi, sambil setengah bercanda, “Berani melebih 100 meter kelaut, siap-siap mengadu nasib, karam atau aman.”

Sementara AKBP Charles melaksanakan konferensi pers, bukan masalah kapal patroli milik Satpolair, tetapi persoalan penetapan tersangka kasus pencabulan, Operasi Tangkap Tangan Kades Tanjung, dan narkoba. Duduk disebelah orang nomor satu di kepolisian perbatasan Indonesia itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Natuna Ajun Komisaris Polisi Komaruddin, sejumlah perwira dan awak media.

Namun AKBP Charles optimis, Satpolair Polres Natuna akan memperoleh kapal patroli, ketika dua anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Republik Indonesia, Irjen Pol (Purn) Yotje Mende dan Poengky Indarti berkunjung ke Natuna pada Rabu 13 September lalu. Dalam kunjungan dua anggota Kompolnas itu mengadakan  pertemuan di Sri Srindit.

Hadir dalam acara Wakil Bupati Ngesti Yuni Suprapti, sejumlah Forum Koordinasi Perangkat Daerah, Organisasi Perangkat Daerah serta masyarakat. Dua anggota Kompolnas itu berjanji, kata AKBP Charles, akan meneruskan kebutuhan kapal patroli Satpolair Polres Natuna kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Tetapi, hasil pertemuan dengan Kompolnas, tidak hanya membahas masalah kapal patroli Satpolair, berkembang ketopik lain, misal: belum terbangun Kantor Satpolair Polres Natuna, Pos Polisi Luar Batas Negara (Serasan – Pulau Laut), transportasi masyarakat, listrik dan pariwisata. Satu lagi, kata AKBP Charles, “Belum terealisasi tunjangan perbatasan bagi anggota Polres bertugas di Midai.”

Seandai, kata Charles, kapal patroli Satpolair C1 terealisasi bantuannya pada 2018, laut Natuna 12 mil kebawah, akan bertambah penjagaannya. Mengingat, kapal patroli TNI Angkatan Laut dan Kementerian Kelautan Perikanan, fokus mengawasi 12 mil keatas.

“Natuna ini, negeri perbatasan di tengah negara Asean. Beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namanya beranda, harus lebih bagus dari belakang rumah. Coba, Anda perhatikan, mana ada belakang rumah lebih bagus dari beranda?” katanya sambil mengajak awak media, sarapan pagi bersama di salah satu kedai kopi di Kota Ranai.

Adw
 
Top