{[["☆","★"]]}
MYANMAR I KEJORANEWS.COM : Sebuah tindakan keras pemerintah di Myanmar telah memaksa hampir 19.000 anggota komunitas Muslim Rohingya minoritas Myanmar untuk melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh dalam waktu kurang dari seminggu.

 "Sampai semalam, 18.500 orang telah ditemukan" dari Negara Rakhine Myanmar, tempat mereka tinggal, kata Chris Lom, juru bicara Organisasi Internasional untuk Migrasi Asia Pasifik, pada hari Rabu (30/8/2017).

Lom mengaku jumlahnya bisa meningkat secara signifikan karena banyak pengungsi mungkin tidak terdaftar oleh pihak berwenang Bangladesh.

"Kita juga tahu ada orang yang terjebak di perbatasan, tapi kita tidak tahu berapa," katanya.

Komunitas Rohingya yang berjumlah satu juta jiwa, yang oleh pemerintah Myanmar dicap sebagai imigran ilegal dari Bangladesh, telah menderita karena agresi yang meluas dan sistematis selama bertahun-tahun.

Para ekstremis Buddhis telah melakukan kekerasan komunal di Rakhine sejak tahun 2012. Ratusan orang telah terbunuh dan puluhan ribu dipaksa pergi dari rumah mereka.

Selain itu, Rakhine telah berada di bawah penguncian militer, yang datang dengan dorongan "kontra pemberontakan" sejak serangan yang diduga terjadi pada penjaga perbatasan negara itu pada 9 Oktober tahun lalu. Sembilan petugas polisi tewas dalam serangan tersebut, yang oleh pemerintah dipersalahkan pada kelompok Rohingya bersenjata.

Sedikitnya 110 orang tewas dalam serangan terbaru yang telah mencengkeram wilayah tersebut sejak enam hari lalu. Pemerintah telah menyalahkan pembunuhan polisi itu terhadap "militan" dalam upaya untuk membenarkan respon kejam mereka yang beralasan keamanan.

PBB yakin bahwa pemerintah Myanmar mungkin telah melakukan pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam tindakan keras mereka terhadap muslim Rohingya.

Sumber : presstv.com
Editor : Boris HR
 
Top