{[["☆","★"]]}
NATUNA I KEJORANEWS.COM : Tanggal 13 Agustus 2006 silam, Daeng Rusnadi dilantik sebagai Bupati Natuna periode (2006-2010). Empat bulan menjabat, dirinya langsung merencanakan pembangunan masjid megah sebagai ikon Islamic di Natuna yang kini dikenal dengan nama Masjid Agung Natuna. Tepatnya pada 4 Mei 2007 dilakukan peletakan batu pertama bagi pembangunan Masjid Agung. Kamis (16/3/17).


Masjid Agung Natuna merupakan bagian dari mega proyek dengan nama Gerbang Utaraku yang meliputi perumahan DPRD, rumah dinas Bupati dan Wakil Bupati, perkantoran dinas, asrama haji, serta kampus Sekolah Tinggi Agama Islam(STAI).

Dikatakan mega proyek, karena untuk Pembangunan Masjid Agung saja menelan anggaran hingga Rp.400 miliar, atau setara dengan APBD Kota Tanjung Pinang sebagai ibukota Provinsi Kepri pada tahun 2007. Sementara itu, total keseluruhan anggaran pembangunan komplek NGU sebesar Rp.781 miliar lebih (termasuk masjid agung-red).

Gerbang Utara Ku merupakan Singkatan dari slogan, Gerakan Membangun Untuk Sejahtera ke Anak Cucu. Kata Gerbang Utara juga merujuk pada posisi Natuna secara geografis yang merupakan wilayah paling utara Indonesia. Komplek NGU kini Menjadi ikon kebanggaan pemerintah dan masyarakat natuna sekaligus sebagai Utility Islamic centre dengan melandasi kebesaran Islam di Tanah Melayu.

Keindahan Masjid Agung Natuna dengan latar latar belakang gagahnya gunung Ranai seringkali di eluh-eluhkan serupa dengan bangunan Tajmahal di India. Para pelancong lokal maupun mancanegara yang datang ke Natuna pastinya akan berkunjung ke komplek NGU ini, Baik untuk berfoto maupun sekedar menikmati keindahan panorama sekitar kawasan itu.
Biasanya, Pemerintah Kabupaten Natuna juga sering menggelar Berbagai macam kegiatan akbar tingkat kabupaten dan provinsi, maupun mengadakan pertemuan dengan pejabat dari pusat di kawasan NGU ini.

Sayangnya, seiring bergantinya kepemimpinan kepala daerah Kondisi fisik bangunan yang mulai menua dan kurang perawatan dari pemerintah setempat, menjadikan keindahan komplek NGU dengan bangunan utamanya masjid Agung Natuna tidak lagi semulus dahulu. Hal itu disaksikan lansung oleh warga Natuna sembari mengeluarkan decak kekecewaan, ketika melihat kondisi ikon kebanggaan masyarakat itu  “diabaikan” oleh Pemkab Natuna. Atap masjid mulai keropos dan berlubang, dinding retak dan turun, kondisi toilet penuh karat dan tidak ada air, dan masih banyak lagi penampakan tidak terawatnya areal komplek NGU sehingga orang yang melihatnya akan merasa miris karena proyek seharga ratusan miliar diabaikan begitu saja.

Ironisnya, minimnya penjagaan pada malam hari di areal NGU, dimanfaatkan oleh para remaja maupun orang dewasa sebagai tempat pacaran hingga praktek mesum. Dampak lainnya yakni sering terjadi pencurian di areal perkantoran dan kampus stai natuna, hal ini dikarenakan pada malam hari penerangan sangat kurang di areal NGU. Jika terus diabaikan, ikon kebanggaan tersebut lama kelamaan akan akan hancur termakan zaman.

****
 
Top