{[["☆","★"]]}
NATUNA I KEJORANEWS.COM : Gara-gara terkena pajak ganda, distributor obat-obatan farmasi tidak mau lagi mendistribusikan obatnya ke natuna.  akibatnya beberapa bulan mendatang natuna diprediksi akan paceklik obat. Menurut pengakuan dirut RSUD natuna, Dr.Faisal, distributor obat tersebut terkena pajak ganda yakni  berupa uang jaminan saat barang akan masuk dan keluar dari Free Trade Zone (FTZ) Batam. Rabu (8/2/17).

 “ Selama ini natuna melakukan pembelian obat  atau alat kesehatan melalui E-katalog sesuai aturan pemerintah pusat, tetapi setiap e-katalog itu ada zona masing-masing, karena kita masuk di dalam provinsi kepulauan riau, makanya barang itu masuk melalui batam.” Ungkap Faisal, Rabu(8/2).

Akan tetapi, tambah faisal, batam merupakan kawasan FTZ, sehingga distributor dikenakan pajak jaminan saat barang masuk batam sebesar 10 persen, dan saat barang akan dikirim ke natuna dikenakan lagi 10 persen. Akibatnya distributor merasa rugi jika harus terkena pajak ganda itu.

Mengatasi masalah tersebut, Faisal mengklaim sudah melakukan berbagai upaya yakni diantaranya berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan DPRD natuna. selain itu, bersama pemkab natuna manajemen RSUD sudah mengunjungi BPK untuk meminta solusi. Namun, tidak membuahkan hasil.

Rencananya, pihak RSUD dan pemkab akan mengunjungi direktorat jenderal pajak dan kementerian terkait untuk membahas masalah tersebut.

“ Rencana nanti kita berangkat sama pak sekda mengunjungi dirjen pajak dan kementerian yang terkait masalah ini. Kalau bisa nanti kita minta pindah zona, sehingga obatnya tidak didistribusikan melalui batam lagi.” Tutur Faisal.

Ditanya perihal cadangan obat yang dimiliki RSUD saat ini, faisal mengaku masi memiliki cadangan obat-obatan. Namun, dirinya khawatir cadangan obat tersebut hanya untuk jangka waktu sebulan.

Kelangkaan obat yang menteror RSUD natuna sebenarnya bukan baru sekali terjadi. Hampir setiap tahun, masalah kelangkaan obat menjadi momok yang di khawatirkan banyak pihak, khususnya pasien RSUD.

Lambatnya pelelangan dan kurangnya anggaran daerah untuk belanja obat-obatan menjadi faktor penyebab persediaan obat di natuna kian terkikis. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, akan banyak pasien berpenyakit kritis yang menangis, karena hartanya terkuras habis untuk membeli obat dari luar daerah yang harganya juga relatif fantastis.

Adelia
 
Top